Murji'ah & Mu'tazilah

Materi Pembelajaran

Materi

DOKTRIN AJARAN POKOK ALIRAN MU'TAZILAH

Lima pokok ajaran ajaran Mu'tazilah atau sering disebut dengan Al-Ushul Al-Khomsah merupakan jawaban final terhadap persoalan-persoalan teologis yang muncul dari berbagai aliran yang ada sebelumnya. Lima ajaran pokok tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. At-Tauhid

    At-Tauhid atau ke-Maha-Esaan Tuhan merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu'tazilah. Untuk memurnikan ke-Esaan Allah, Mu'tzilah menolak konsep Allah memiliki sifat-sifat, pengambaran fisik Allah. Allah itu Rsa, tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan sebagainya. Namun mendengar, kuasa, mengetahuai dan sebagainya itu bukan sifat-Nya tetapi dzat-Nya. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS. Asy-Syura : 11 di bawah ini :

    ﴿ فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١١ ﴾

    "11.  (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

    Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat dan apa yang disebut sifat menurut Mu'tazilah adalah Dzat Allah itu sendiri. Selain Mu'tazilah menolak paham anthropomorphisme, yaitu menggambarkan Tuhan dekat menyerupai mahkluk-Nya. Mereka juga menolak beatific vision, yaitu bahwa Tuhan dapat dilihat manusia dengan mata kepalanya. Mereka mendasarkan pendapatnya tersebut pada firman Allah dalam QS. Al-An'am ayat 103 :

    ﴿ لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ ١٠٣ ﴾

    "103.  Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu. Dialah Yang Mahahalus lagi Mahateliti."

    Jika di dalam Al-Qur'an terdapat ayat yang memberikan kesan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat kelak sebagaimana dalam QS. Al-Qiyamah ayat 22-23 berikut ini :

    ﴿ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣ ﴾

    22.  Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri . 23.  (karena) memandang Tuhannya.

    Maka perkataan nadhirah (melihat) harus ditafsirkan dan tidak boleh diartikan secara harfiaj. Kata nandhiroh harus diartikan muntadhiroh (menanti), bukan melihat denga mata kepala.

    Satu-satunya sifat Tuhan yang betul-betul, tidak mungkin ada pada mahkluk-Nya ialah sifat qadim dalam arti tidak mempunyai permulaan. Dan oleh karena itu, tidak ada yang lain selain dari Allah yang bisa bersifat qadim. Hanya zat Tuhan yang bersifat qadim. Selanjutnya kaum Mu'tazilah membagi sifat-sifat Tuhan kedalam dua golongan :

    1. Sifat-sifat yang merupakan esensi Tuhan dan disebut sifat zatiah

      Yang disebut sifat esensi seperti, wujud (al-wujud), kekekalan di masa lampau (al-qidam), hidup (al-hayah), kekuasaan (al-qudrah).

    2. Sifat-sifat yang merupakan perbuatan-perbuatan Tuhan, yang disebut sifat fi'liah.

      Sifat-sifat perbuatan terdiri dari sifat-sifat yang mengandung arti hubungan antara Tuha dengan mahkluk-Nya, seperti kehendak (al-iradah), sabda (kalam), keadilan (al-adl) dan sebagainya.

  2. Al-Adl

    Al-Adl merupakan ajaran pokok Mu'tazilah kedua, erat kaitannya dengan at-Tauhid. Kalau dengan at-Tauhid kaum Mu'tazilah ingin menyucikan diri Tuhan dari persamaan dengan mahkluk, sedangkan al-adl mereka ingin menyucikan perbuatan Tuhan dari persamaan dengan perbuatan mahkluk. Hanya Tuhan lah yang berbuat adil. Tuhan tidak bisa berbuat dzalim, pada mahkluk terdapat perbuatan dzalim. Dengan kata lain, kalau At-Tauhid membahas keunikan diri Tuhan, sedangkan al-Adl membahas keunikan perbuatan Tuhan.

    Menurut 'Abd Al-Jabbar, semua perbuatan Tuhan bersifat baik; Tuhan tidak berbuat buruk, dan tidak melupakan apa yang wajib dikerjakan-Nya. Dengan demikian, Tuhan tidak berdusta, tidak bersikap dzalim, tidak menyiksa anak-anak polytheist lantaran dosa orang tua mereka, tidak menurunkan mu'jizat bagi pendusta dan tidak memberi beban yang tidak dapat dipikul manusia.

    Untuk dapat memikul beban-beban yang diberikan , Tuhan memberikan daya kepada manusia, menerangkan hakikat beban-beban itu, dan memberi upah atau hukuman atas perbuatan-perbuatan manusia, kalau Tuhan memberi siksaan, maka siksaan itu adalah untuk kepentingan dan mashlahat manusia; karena kalau bukan untuk kemaslahatan manusia, berarti Tuhan melalaikan salah satu kewajiban-Nya.

    Menurut Mu'tazilah, manusia itu berwenang melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri. Allah hanya menyuruh dan menghendaki yang baik bukan yang buruk. Oleh sebab itu, manusia berhak mendapatkan pahala atas kebaikannya dan sebaliknya dia berhak menerima siksaan atas kejahatannya. Untuk menguatkan pandangan tersebut, Mu'tazilah mendasarkan pada beberapa ayat Al-Qur'an sebagai berikut :

    1. QS. Al-Muddattsir : 38

      ﴿ كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ ٣٨ ﴾

      38.  Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan

    2. QS. An-Nisa' : 111

      ﴿ وَمَنْ يَّكْسِبْ اِثْمًا فَاِنَّمَا يَكْسِبُهٗ عَلٰى نَفْسِهٖ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ١١١ ﴾

      111.  Siapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

    3. QS. Al-Muzammil : 19

      ﴿ اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا ࣖ ١٩ ﴾

      19.  Sesungguhnya ini adalah peringatan. Siapa yang berkehendak niscaya mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya.

    4. QS. Fushshilat : 46

      ﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔ ٤٦ ﴾

      46.  Siapa yang mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan siapa yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya).

  3. Al-Wa'd wa Al-Wa'id

    Ajaran dasar ketiga ini erat sekali hubungannya dengan keadilan Tuhan sebagaimana tealah diuraikan di atas. Sebab bila Tuhan menjatuhkan siksaan kepada orang taat atau memasukkan orang yang berbuat maksiat ke dalam surge, maka perbuatan tersebut bertentangan dengan prinsip keadilan-Nya yang berarti telah menyalahi janji-Nya. Menurut Al-wa'd wa al-wa'id, Tuhan mesti memberi kesenangan (pahala) kepada yang berbuat baik dan memberikan siksaan bagi yang berbuat maksiat. Bila tidak demikian, tentu Allah berdusta dan tidak menepati janji-Nya.

    Karena itu, mereka mengingkari adanya syafa'at (pengampunan) pada hari kiamat dengan mengesampingkan ayat-ayat yang menetapkan syafa'at, seperti halnya yang disebutkan dalam QS. Al-A'raf : 53 berikut ini :

    ﴿ هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا تَأْوِيْلَهٗۗ يَوْمَ يَأْتِيْ تَأْوِيْلُهٗ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۚ فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَاۤءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَآ اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ قَدْ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ ٥٣ ﴾

    53.  Tidakkah mereka menunggu kecuali takwilnya (terwujudnya kebenaran Al-Qur'an). Pada hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata, "Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu?" Sungguh, mereka telah merugikan diri sendiri dan telah hilang lenyap dari mereka apa pun yang dahulu mereka ada-adakan.

    Karena syafa'at menurut mereka berlawanan dengan prinsip al-wa'ad wa al-wa'id.

  4. Al-Manzilah baina al-Manzilatain

    Merupakan ajaran pertama yang di bawa Washil yang berarti posisi diantara dua posisi dalam arti posisi menengah. Menurut ajaran ini, orang yang berdosa besar bukan kafir, sebagaimana disebut kaum Khawarij dan bukan pula mukmin sebagaimana dikatakan oleh kaum Murji'ah, tetapi fasiq, yang menduduki posisi diantara posisi mukmin dan posisi kafir.

    Pembuat dosa besar bukanlah kafir, karena ia masih percaya kepada Tuhan dan Nabi Muhammad ; tetapi bukanlah mukmin, karena imannya tidak lagi sempurna. Karena bukan mukmin, ia tidak dapat masuk surge, dan karena bukan kafir pula, ia sebenarnya tak mesti masuk neraka. Ia seharusnya ditempatkan di luar surge dan di luar neraka. Inilah sebenarnya keadilan. Tetapi karena di akhirat tidak ada tempat selain dari surge dan neraka, maka pembuat dosa besar, harus dimasukkan ke dalam salah satu tempat ini.

    Penentuan tempat itu banyak hubungannya dengan paham Mu'tazilah tentang iman. Iman bagi mereka, digambarkan, bukan hanya oleh pengakuan dan ucapan lisan, tetapi juga oleh perbuatan-perbuatan. Dengan demikian pembuat dosa besar tidak beriman dan oleh karena itu tak dapat masuk surge. Tempat satu-satunya adalah neraka. Tetapi tidak adil kalau ia dalam neraka mendapat siksaan yang sama berat dengan kafir. Oleh karena itu, pembuat dosa besar, betul masuk neraka, tetapi mendapat siksaan yang lebih ringan,

  5. Amar Ma'ruf Nahi Munkar

    Ajaran kelima aliran Mu'tazilah adalah perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat. Menurut ajaran tersebut, perintah perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat wajib dilakukan oleh setiap orang yang beriman apabila memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah :

    1. Ia mengetahui bahwa yang diperintahkan itu adalah memang suatu yang ma'ruf dan yang dilarang itu memang suatu yang munkar.
    2. Ia mengetahui bahwa kemungkaran itu nyata dilakukan orang.
    3. Ia mengetahui bahwa perintah berbuat baik atau larangan berbuat jahat itu tidak akan membawa mudharat yang lebih besar.
    4. Ia mengetahui atau paling tidak menduga bahwa tindakannya tidak akan membahayakan dirinya dan hartanya.

    Perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat, dianggap sebagai kewajiban bukan oleh kaum Mu'tazilah saja, tetapi juga oleh golongan umat Islam lainnya. Perbedaannya adalah dalam pelaksanaanya saja. Mu'tazilah berpendapat bahwa bila sudah cukup dengan penjelasan, paksaan dan kekerasan tidak diperlukan lagi. Tetapi bila penjelasan tidak cukup, barulah memakai kekerasan, walaupun nantinya akan menimbulkan peperangan.

Menu Lainnya